Merawat yang merawat: mengenali lelah pengasuh dalam keluarga dan membagi beban
Anggota keluarga yang mengurus orang sakit juga perlu diurus.
Di banyak rumah, ada satu orang yang menjadi pusat: yang mengingat jadwal obat, mengantar kontrol, menyuapi, membalik badan, dan bangun saat malam terdengar batuk. Biasanya ia seorang anak perempuan, menantu, atau pasangan. Biasanya juga ia tidak pernah disebut sebagai pengasuh, karena merawat keluarga dianggap sudah semestinya.
Justru karena dianggap semestinya, lelahnya jarang diakui. Padahal merawat anggota keluarga yang sakit atau lanjut usia adalah pekerjaan penuh waktu yang tidak ada jam pulangnya, dan orang yang menjalaninya tanpa jeda akan habis, cepat atau lambat.
Baca juga: Menemani orang tua ke dokter: apa yang perlu dibawa, dicatat, dan ditanyakan
Tanda-tanda yang sering dianggap biasa
Lelah pengasuh jarang muncul sebagai keluhan langsung. Ia tampak dalam bentuk lain: mudah tersinggung pada hal kecil, tidur yang tidak pernah terasa cukup, sering sakit kepala atau sakit perut, menarik diri dari teman, atau rasa bersalah yang terus-menerus karena merasa tidak cukup sabar. Sebagian merasa kehilangan diri sendiri, seolah hidupnya hanya tersisa sebagai perawat.
Tanda yang lebih mengkhawatirkan adalah ketika muncul rasa benci pada orang yang dirawat, pikiran untuk pergi begitu saja, atau perasaan hampa yang tidak pergi berhari-hari. Ini bukan tanda orang jahat; ini tanda beban yang sudah melebihi kapasitas satu orang.
Membagi beban secara nyata
Pembagian beban yang efektif bersifat spesifik, bukan sekadar kabari kalau butuh bantuan. Saudara yang tinggal jauh bisa mengambil alih urusan administrasi, pembayaran, atau pencarian informasi. Yang tinggal dekat bisa menjadwalkan satu hari tetap setiap minggu untuk menggantikan. Tetangga atau kerabat bisa diminta membantu antar jemput kontrol.
Pertemuan keluarga yang jujur, meski tidak nyaman, sering menjadi titik balik. Buat daftar tugas sehari-hari, lalu bagi sesuai kemampuan masing-masing, dengan jadwal yang tertulis. Jasa perawat harian atau layanan kunjungan rumah, bila terjangkau, bukan tanda gagal; ini bagian dari membagi beban.
Merawat diri sebagai bagian dari merawat
Pengasuh perlu waktu yang benar-benar lepas, bukan sekadar istirahat sambil memantau. Jalan pagi sendirian, bertemu teman, atau tidur tanpa telinga yang terus siaga. Waktu ini bukan kemewahan; ini yang membuat pengasuh bisa bertahan bulan demi bulan.
Pengasuh juga perlu memeriksakan kesehatannya sendiri, termasuk kontrol rutin yang sering ditunda karena sibuk mengurus orang lain. Dan jika kelelahan sudah disertai sedih yang berkepanjangan, sulit tidur, atau pikiran yang menakutkan, berbicara dengan dokter atau psikolog adalah langkah yang tepat, sama pentingnya dengan mengantar orang tua ke dokter.
Rumah yang sehat tidak bertumpu pada satu orang yang kelelahan. Memastikan pengasuh terawat adalah bagian dari memastikan orang yang dirawat tetap mendapat perawatan yang baik.