Berolahraga selama bulan puasa: memilih waktu, intensitas, dan tanda untuk berhenti
Tetap bergerak sebulan penuh tanpa memaksa tubuh yang sedang berpuasa.

Menjelang bulan puasa, pertanyaan yang sama muncul setiap tahun: apakah sebaiknya berhenti olahraga sebulan penuh, atau tetap jalan seperti biasa? Jawaban yang paling masuk akal ada di antara keduanya. Tubuh yang berpuasa tetap bisa bergerak, tetapi aturan mainnya perlu disesuaikan.
Berhenti total selama sebulan membuat kebugaran yang dibangun berbulan-bulan menurun, dan memulai lagi setelah Lebaran terasa berat. Di sisi lain, memaksakan latihan seperti biasa di tengah hari yang panas tanpa asupan cairan adalah resep untuk pusing dan lemas.
Baca juga: Libur panjang akhir tahun: menjaga tubuh tetap bergerak saat jadwal berantakan
Memilih waktu yang tepat
Ada tiga jendela yang umum dipakai. Pertama, menjelang berbuka: berolahraga ringan hingga sedang tidak lama sebelum magrib, sehingga cairan dan makanan bisa segera menggantikan yang hilang. Kedua, setelah berbuka dan salat, dengan jeda yang cukup agar perut tidak penuh; ini jendela yang cocok untuk latihan yang lebih berat. Ketiga, setelah sahur, untuk olahraga yang sangat ringan seperti jalan kaki, saat udara masih sejuk.
Olahraga di siang hari yang terik, apalagi di luar ruangan, sebaiknya dihindari selama puasa. Udara tropis membuat tubuh kehilangan cairan lewat keringat, dan tidak ada cara menggantinya sampai magrib.
Menurunkan intensitas, menjaga kebiasaan
Bulan puasa bukan waktu untuk memecahkan rekor pribadi. Tujuan yang realistis adalah mempertahankan, bukan meningkatkan. Lari diganti jalan cepat, sesi beban dipersingkat dengan beban lebih ringan, dan durasi dikurangi. Latihan dengan intensitas rendah hingga sedang, dilakukan konsisten, jauh lebih berguna daripada satu sesi berat yang diikuti kelelahan dua hari.
Yang sering terlupa adalah tidur. Jam tidur selama puasa biasanya terpotong oleh sahur dan ibadah malam, dan tubuh yang kurang tidur pulih lebih lambat dari latihan. Menyesuaikan jadwal olahraga dengan jadwal tidur sama pentingnya dengan menyesuaikannya dengan jadwal makan.
Tanda untuk berhenti saat itu juga: pusing, pandangan berkunang, mual, jantung berdebar tidak wajar, atau keringat yang berhenti padahal masih merasa panas. Ini bukan hal yang perlu ditahan sampai berbuka. Bila tanda seperti ini berulang, atau bila Anda punya kondisi seperti diabetes, tekanan darah tinggi, atau penyakit jantung, bicarakan dengan dokter sebelum menentukan apakah dan bagaimana berolahraga selama puasa.
Puasa dan olahraga bisa berjalan bersama selama keduanya saling menghormati. Tubuh yang diajak bergerak dengan bijak selama sebulan akan masuk ke hari Lebaran dalam kondisi yang lebih baik daripada tubuh yang dibiarkan diam.