Hobi tanpa target: mengapa orang dewasa perlu bermain lagi
Setiap kegiatan orang dewasa seolah harus menghasilkan sesuatu. Hobi yang dilakukan hanya karena menyenangkan justru menjadi salah satu penopang kesehatan mental yang paling diabaikan.
Coba tanyakan kepada orang dewasa di sekitar Anda apa yang mereka lakukan untuk bersenang-senang, dan perhatikan jedanya. Banyak yang akhirnya menjawab dengan kegiatan yang sebenarnya produktif: olahraga untuk menurunkan berat badan, membaca untuk pengembangan diri, memasak untuk menghemat. Kegiatan yang dilakukan semata karena menyenangkan, tanpa tujuan dan tanpa unggahan, semakin langka setelah usia dua puluh lima.
Ada harga yang kita bayar untuk itu. Hari yang seluruhnya terdiri dari kewajiban, pekerjaan, mengurus rumah, mengurus orang lain, dan menggulir layar sebagai satu-satunya jeda, meninggalkan kepala yang terus menyala tanpa pernah benar-benar beristirahat. Bermain, dalam arti luas, adalah cara pikiran mengisi ulang yang tidak bisa digantikan oleh tidur semata.
Baca juga: Marah di jalan macet: mengelola emosi harian dalam perjalanan pulang
Yang membedakan hobi dari pekerjaan sampingan
Hobi yang memulihkan punya ciri sederhana: tidak ada ukuran keberhasilan dari luar. Melukis tanpa niat menjual, bermain gitar tanpa niat tampil, berkebun di pot tanpa menghitung hasil, merakit sesuatu yang tidak berguna. Begitu hobi mulai diukur dengan pengikut, pesanan, atau target, ia perlahan berubah menjadi pekerjaan kedua, dan manfaatnya untuk pikiran ikut hilang.
Itu bukan berarti hobi yang menghasilkan uang buruk. Hanya saja, orang dewasa tetap membutuhkan satu ruang kecil yang bebas dari penilaian, dan ruang itu sulit dibangun di tempat yang sama dengan sumber penghasilan.
Memulai ketika merasa tidak punya waktu
Keluhan yang paling sering muncul adalah tidak ada waktu. Padahal yang hilang biasanya bukan waktunya, melainkan izin. Dua puluh menit yang biasanya habis untuk menggulir layar sebelum tidur sudah cukup untuk menyulam beberapa baris, menyusun teka-teki, atau menulis beberapa paragraf yang tidak akan dibaca siapa pun.
Kembalilah ke apa yang disukai saat remaja. Kebanyakan orang pernah punya kegiatan yang ditinggalkan karena dianggap tidak serius: menggambar, bermain bola di lapangan, menyusun lagu, memelihara ikan. Kegiatan itu biasanya masih tersimpan dan hanya menunggu diambil kembali tanpa tuntutan untuk menjadi mahir.
Bermain bersama dan bermain sendiri
Hobi yang dilakukan bersama orang lain, bermain kartu di teras, bersepeda santai dengan tetangga, bergabung dengan kelompok paduan suara di lingkungan, memberi manfaat ganda karena menyentuh kebutuhan sosial yang juga sering terabaikan. Hobi yang dilakukan sendiri memberi keheningan yang tidak kurang pentingnya. Kebanyakan orang membutuhkan keduanya.
Jika Anda menyadari tidak ada satu pun kegiatan yang terasa menyenangkan lagi, termasuk yang dulu disukai, dan perasaan itu bertahan selama berminggu-minggu, itu bukan soal kekurangan hobi. Hilangnya minat yang menyeluruh adalah hal yang pantas dibicarakan dengan tenaga profesional. Untuk sisanya, mulailah dari yang paling kecil dan paling tidak berguna. Justru di sanalah manfaatnya.