Edisi 26 Oktober 2026Kebiasaan kecil, umur panjang.
← Sehat HarianGizi

Gula tersembunyi dalam segelas es manis: mengapa minuman lebih licin daripada makanan

Es teh, kopi susu kekinian, dan boba terasa ringan di lidah, tetapi gula di dalamnya sering melampaui apa yang kita sadari. Memahami mengapa cairan manis mudah lolos dari perhatian adalah langkah pertama untuk mengendalikannya.

Gula tersembunyi dalam segelas es manis: mengapa minuman lebih licin daripada makanan
Foto: B / Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)

Di hampir setiap warung, kantin, dan gerai minuman di Indonesia, pilihan bawaannya adalah manis. Es teh datang sudah bergula, kopi susu disajikan dengan sirup, dan minuman boba menumpuk gula dari teh, susu, dan topingnya sekaligus. Kebiasaan ini begitu lumrah sehingga jarang dipertanyakan, padahal di sinilah sebagian besar gula harian banyak orang bersembunyi.

Yang membuat minuman manis berbeda dari makanan manis adalah cara tubuh meresponsnya. Sepotong kue memberi rasa kenyang, sehingga kita berhenti. Segelas besar minuman manis bisa habis dalam beberapa menit tanpa rasa kenyang yang berarti, dan tidak lama kemudian kita siap makan seperti biasa. Kalori dari gula cair seolah tidak terhitung oleh tubuh, tetapi tetap tercatat.

Baca juga: Garam dalam mi instan dan camilan kemasan: belajar membaca label gizi dalam lima menit

Mengapa cairan manis sulit dirasakan

Suhu dingin dan es batu meredam persepsi rasa manis. Minuman yang terasa pas saat dingin sebenarnya bisa sangat manis jika diminum pada suhu ruang. Inilah sebabnya es teh manis yang mencair dan mulai hangat sering terasa jauh lebih manis daripada saat baru disajikan. Lidah kita ditipu oleh suhu, bukan oleh jumlah gula yang berkurang.

Ukuran porsi juga ikut bergeser. Gelas minuman kekinian kini lazim berukuran besar, dan tambahan toping seperti jeli, krim, atau sirup perisa menambah gula tanpa terasa sebagai tambahan. Pelanggan membayar untuk satu minuman, tetapi secara gizi mendapatkan beberapa sumber gula yang ditumpuk.

Pedoman gizi umum menyarankan agar gula tambahan dibatasi hingga porsi yang relatif kecil dalam sehari. Satu minuman manis berukuran besar saja sudah bisa mendekati atau melampaui batas tersebut, sebelum menghitung kecap manis, saus, biskuit, dan camilan yang ikut dimakan sepanjang hari.

Mengurangi tanpa merasa dihukum

Pendekatan yang paling bertahan lama bukan melarang diri sepenuhnya, melainkan menurunkan standar manis secara bertahap. Memesan dengan permintaan 'gula sedikit' atau 'setengah gula' adalah langkah yang kini diterima di sebagian besar gerai. Setelah beberapa pekan, lidah menyesuaikan diri dan takaran lama justru terasa berlebihan.

Langkah lain adalah membedakan minuman sebagai pelepas dahaga dan minuman sebagai camilan. Untuk dahaga, air putih atau teh tawar sudah cukup. Minuman manis dapat tetap dinikmati, tetapi diperlakukan seperti makanan penutup: sesekali, dalam porsi yang disadari, bukan sebagai pendamping setiap makan.

Bagi mereka yang sudah memiliki kondisi tertentu seperti gula darah tinggi, berat badan berlebih, atau riwayat diabetes dalam keluarga, pembicaraan dengan dokter atau ahli gizi akan memberikan batasan yang lebih personal. Artikel ini hanya memberi gambaran umum; keputusan untuk kondisi pribadi tetap sebaiknya dibicarakan dengan tenaga kesehatan.

Pada akhirnya, kebiasaan minum manis bukan soal lemah kemauan, melainkan soal lingkungan yang menjadikannya pilihan bawaan. Mengubah pilihan bawaan itu, satu pesanan pada satu waktu, adalah perubahan kecil yang dampaknya terasa bertahun-tahun kemudian.

LW
Lukman WiduriLukman Widuri menulis untuk Sehat Harian sejak 2025, terutama tentang gizi sehari-hari dan kesehatan mental. Ia punya kebiasaan membaca label kemasan di minimarket sebelum menulis apa pun tentang gula tersembunyi.