Edisi 26 Oktober 2026Kebiasaan kecil, umur panjang.
← Sehat HarianKeluarga

Makan bersama di meja yang sama: kebiasaan keluarga yang berpengaruh pada gizi anak

Di tengah jadwal yang berbeda-beda, makan bersama semakin jarang terjadi. Padahal momen ini membentuk selera, kebiasaan, dan hubungan anak dengan makanan.

Makan bersama di meja yang sama: kebiasaan keluarga yang berpengaruh pada gizi anak
Foto: B / Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)

Dulu makan bersama adalah kebiasaan yang nyaris otomatis dalam keluarga Indonesia. Kini, dengan jam kerja yang panjang, sekolah yang padat, dan layanan pesan antar yang memudahkan setiap orang makan sendiri kapan saja, meja makan yang penuh menjadi pemandangan yang semakin langka.

Panduan gizi anak secara umum menekankan bahwa kebiasaan makan dibentuk sejak dini, bukan oleh nasihat, melainkan oleh contoh dan pengulangan. Makan bersama adalah tempat contoh itu diberikan tanpa perlu diucapkan.

Baca juga: Mencegah jatuh di rumah: perubahan kecil yang melindungi orang tua lanjut usia

Apa yang dipelajari anak di meja makan

Anak yang melihat orang tuanya makan sayur cenderung lebih mudah menerima sayur, meski perlu ditawarkan berulang kali. Mereka belajar porsi yang wajar, belajar mengenali rasa kenyang, dan belajar bahwa makanan baru tidak perlu ditakuti, semuanya dari mengamati orang di sekitarnya.

Makan bersama juga membuat orang tua lebih mudah memperhatikan pola makan anak: apa yang disukai, apa yang selalu disisihkan, dan apakah ada perubahan nafsu makan yang perlu diperhatikan. Hal-hal ini sulit terpantau jika setiap orang makan di waktu dan tempat yang berbeda.

Di luar gizi, meja makan adalah salah satu dari sedikit tempat di mana seluruh keluarga berada di ruang yang sama tanpa tujuan lain selain berbincang. Anak-anak yang terbiasa dengan percakapan santai di meja makan sering lebih mudah bercerita tentang hari mereka, termasuk hal yang mengganggu.

Menjadikannya mungkin di tengah jadwal padat

Makan bersama tidak harus makan malam setiap hari. Sarapan bersama pada hari kerja, makan malam pada beberapa hari yang disepakati, atau makan siang bersama di akhir pekan sudah memberi sebagian besar manfaatnya. Yang penting adalah keteraturan yang bisa diandalkan, bukan frekuensi yang sempurna.

Makanannya pun tidak harus istimewa. Hidangan sederhana yang dimasak di rumah, atau bahkan makanan beli yang disantap bersama di meja yang sama, tetap memberi kesempatan yang sama untuk berkumpul. Melibatkan anak dalam menyiapkan makanan, meski hanya mengatur piring, menambah rasa memiliki terhadap kebiasaan ini.

Satu aturan yang disarankan hampir semua panduan keluarga adalah menjauhkan layar selama makan, termasuk ponsel orang tua. Televisi yang menyala dan ponsel di samping piring mengalihkan perhatian dari makanan dan dari satu sama lain, dan membuat anak makan tanpa menyadari apa dan berapa banyak yang mereka makan.

Jika orang tua mengkhawatirkan berat badan, nafsu makan, atau pola makan anak yang sangat pilih-pilih hingga memengaruhi pertumbuhan, pembicaraan dengan dokter anak atau ahli gizi lebih tepat daripada mengubah pola makan secara drastis sendiri. Tetapi bagi sebagian besar keluarga, meja makan yang kembali terisi adalah titik awal yang baik dan sederhana.

DK
Dimas KusnadiDimas Kusnadi adalah penulis paling produktif di Sehat Harian sejak bergabung pada 2025, dengan fokus pada kesehatan keluarga. Sebagian besar idenya datang dari grup pesan orang tua murid tempat ia menjadi anggota yang jarang bersuara.