Membawa bekal ke kantor: menyusun kotak makan yang seimbang dan tidak membosankan
Rumus sederhana supaya bekal tidak berakhir di tempat sampah.

Di musim kemarau panjang seperti sekarang, makan siang di luar kantor berarti panas, antre, dan pilihan yang itu-itu saja. Banyak orang kembali membawa bekal, lalu menyerah setelah dua minggu karena bosan atau karena repot.
Bekal yang bertahan sebagai kebiasaan biasanya bukan yang paling sehat di atas kertas, melainkan yang paling mudah disiapkan dan enak dimakan dingin.
Baca juga: Sarapan yang bertahan sampai siang: soal komposisi, bukan porsi
Rumus piring yang bisa dibawa
Bayangkan kotak makan dibagi tiga bagian. Satu bagian karbohidrat: nasi, kentang, atau ubi. Satu bagian protein: telur, ayam, ikan, tempe, atau tahu. Satu bagian sayur, lebih banyak lebih baik. Buah bisa dibawa terpisah agar tidak layu.
Kuncinya adalah variasi dalam kerangka yang sama. Karbohidratnya tetap, tapi lauknya bergantian: hari ini telur dadar sayur, besok ayam kecap, lusa tempe orek. Sayur yang tahan dibawa tanpa menjadi lembek antara lain buncis, wortel, kol, dan kacang panjang. Sayur berkuah lebih baik dibawa dalam wadah terpisah.
Soal keamanan dan rasa
Di iklim panas, bekal yang disiapkan jam lima pagi dan dimakan jam dua belas siang sudah menempuh waktu yang cukup lama di suhu ruangan. Masak sampai matang, dinginkan sebentar sebelum ditutup, dan simpan di tempat yang tidak terkena sinar matahari langsung. Kalau kantor punya kulkas, gunakan. Makanan yang berbau tidak biasa saat dibuka sebaiknya tidak dimakan, meski sayang.
Agar tidak bosan, jangan takut dengan bumbu. Sambal dalam wadah kecil, perasan jeruk nipis, atau bawang goreng bisa mengubah bekal yang biasa menjadi sesuatu yang ditunggu. Bekal yang dinikmati jauh lebih mungkin dibawa lagi esok hari.
Bagi yang punya kebutuhan diet khusus karena kondisi kesehatan, rumus di atas hanya kerangka umum; ahli gizi dapat menyesuaikannya.