Edisi 26 Oktober 2026Kebiasaan kecil, umur panjang.
← Sehat HarianMental

Kembali bekerja setelah libur Lebaran: mengatur ulang ritme tanpa panik di minggu pertama

Kotak masuk yang penuh, jam tidur yang bergeser, dan rasa enggan yang wajar. Minggu pertama setelah libur panjang bukan untuk mengejar semuanya, melainkan untuk mengembalikan ritme.

Kembali bekerja setelah libur Lebaran: mengatur ulang ritme tanpa panik di minggu pertama
Foto: O / Wikimedia Commons (Public domain)

Libur Lebaran baru saja usai, dan kantor-kantor kembali penuh dengan orang yang tubuhnya sudah hadir tetapi pikirannya masih di kampung halaman. Rasa berat untuk kembali itu bukan tanda kurang bersyukur atau kurang profesional. Itu reaksi yang sangat wajar terhadap ritme yang berubah mendadak: dua minggu bangun siang, makan tanpa jadwal, dan dikelilingi keluarga, lalu tiba-tiba kembali ke alarm pukul lima dan rapat pagi.

Masalah muncul ketika kita memperlakukan minggu pertama sebagai perlombaan mengejar ketertinggalan. Hasilnya biasanya tidur yang semakin kacau, mudah tersinggung, dan perasaan bahwa liburan sama sekali tidak berguna.

Baca juga: Pulang mudik dan lelah yang tidak kunjung hilang

Tubuh dulu, baru pekerjaan

Ritme tidur adalah yang paling cepat rusak dan paling penting dipulihkan. Tetapkan satu jam bangun yang sama setiap hari, termasuk akhir pekan pertama, dan biarkan jam tidur menyusul dengan sendirinya. Cahaya pagi, sarapan pada jam yang tetap, dan bergerak sebentar di luar ruangan membantu jam tubuh menemukan patokannya lagi lebih cepat daripada memaksa tidur lebih awal.

Pola makan selama libur biasanya berat di gula dan lemak, dan itu tidak perlu ditebus dengan diet mendadak. Cukup kembali ke pola biasa: sayur ada di piring, air putih kembali menjadi minuman utama, dan jam makan yang teratur.

Memilah kotak masuk tanpa tenggelam

Hari pertama sebaiknya dipakai untuk memetakan, bukan menyelesaikan. Baca pesan dan surel yang menumpuk, pilah menjadi tiga tumpukan: yang sudah selesai dengan sendirinya, yang bisa menunggu, dan yang benar-benar mendesak. Tumpukan ketiga hampir selalu lebih kecil daripada yang dibayangkan. Mengabarkan kepada rekan kerja bahwa Anda akan membalas secara bertahap sepanjang minggu mengurangi tekanan dari kedua pihak.

Hindari menjadwalkan rapat beruntun pada dua hari pertama jika Anda punya kendali atas kalender. Sisakan jeda untuk menyelesaikan satu dua hal kecil secara utuh. Rasa selesai, sekecil apa pun, lebih memulihkan daripada daftar panjang yang separuh tersentuh.

Membawa pulang yang baik dari libur

Libur panjang sering memperlihatkan hal yang kita rindukan dari kehidupan sehari-hari: makan bersama keluarga, berjalan tanpa tujuan, mengobrol lama tanpa melihat jam. Alih-alih menyimpannya sampai libur berikutnya, pilih satu yang bisa dibawa ke rutinitas kerja, misalnya makan malam tanpa ponsel atau berjalan kaki sepuluh menit setelah makan siang.

Jika rasa berat untuk kembali tidak mereda setelah beberapa minggu, disertai sulit tidur yang terus-menerus, tidak ada minat pada apa pun, atau kecemasan yang mengganggu hari, itu bukan lagi soal ritme libur. Bicarakan dengan orang yang Anda percaya, dan pertimbangkan menemui tenaga profesional. Minggu pertama yang berat adalah hal biasa. Bulan pertama yang berat perlu didengarkan.

RN
Ratih NasutionRatih Nasution menulis untuk Sehat Harian dari 2023 hingga 2025, salah satu dari sedikit penulis yang menemani situs ini sejak tahun pertamanya. Ia dikenal di redaksi karena menolak menulis tentang suplemen apa pun yang belum ia periksa nomor izin edarnya.