Edisi 26 Oktober 2026Kebiasaan kecil, umur panjang.
← Sehat HarianGizi

Lapar lagi setelah makan malam: memahami ngemil malam tanpa rasa bersalah

Sering kali bukan lapar, tapi bosan, lelah, atau haus.

Lapar lagi setelah makan malam: memahami ngemil malam tanpa rasa bersalah
Foto: N / Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)

Makan malam selesai pukul tujuh. Pukul sepuluh, saat menonton atau menggulir layar, tangan mulai mencari keripik. Pola ini sangat umum di banyak rumah, dan biasanya diikuti rasa bersalah sebelum tidur serta janji untuk tidak mengulanginya besok.

Sebelum menyalahkan diri sendiri, ada baiknya mengenali apa yang sebenarnya terjadi. Lapar fisik datang perlahan dan bisa dipuaskan dengan makanan apa pun. Keinginan ngemil malam biasanya datang tiba-tiba, mengarah ke makanan tertentu, dan muncul saat kita lelah, bosan, atau sedang menunda tidur.

Baca juga: Tempe, tahu, dan telur: protein harian yang terjangkau dan tidak kalah

Melihat ulang makan malam dan malam itu sendiri

Makan malam yang terlalu sedikit atau hanya berisi karbohidrat membuat lapar kembali lebih cepat. Menambah sayur dan protein pada makan malam sering mengurangi keinginan ngemil tanpa perlu niat yang keras.

Haus sering disalahartikan sebagai lapar, apalagi setelah seharian di udara panas. Segelas air putih sebelum memutuskan ngemil adalah uji sederhana. Kurang tidur juga membuat keinginan pada makanan manis dan asin meningkat; malam yang panjang di depan layar memperbesar peluang ngemil.

Kalau memang lapar, makan saja. Buah segar, yoghurt tawar, sepotong roti gandum, atau segenggam kacang tanpa garam adalah pilihan yang mengisi perut tanpa mengganggu tidur. Yang perlu dihindari adalah mengemil langsung dari bungkus besar sambil menonton, karena tangan berhenti hanya ketika bungkusnya kosong.

Ngemil malam sesekali bukan masalah kesehatan. Yang perlu diperhatikan adalah bila pola makan malam disertai perasaan tidak terkendali, makan dalam jumlah besar secara sembunyi-sembunyi, atau penyesalan berat yang berulang. Pada titik itu, bicara dengan dokter atau psikolog lebih berguna daripada diet baru.

AF
Ayu FirdausAyu Firdaus menulis di Sehat Harian antara 2024 dan 2025, sebelum beralih ke pekerjaan lain. Ia sempat membawa kebiasaan baru ke redaksi: setiap artikel gizi harus dicoba resepnya di dapur sendiri lebih dulu.